Tampilkan postingan dengan label all about vet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label all about vet. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 01, 2011

Bagaimana cara menghadapi era globalisasi yang akan segera datang?


Bersikap optimis, mau tidak mau kita sebagai dokter hewan harus siap dan mampu dengan cara menyusun strategi, menjalani beberapa tahapan-tahapan dan didukung dengan dasar pengetahuan yang kuat.
Terus berjuang dan saling bahu-membahu antar dokter hewan di Indonesia dalam mengimplementasikan etika profesi.
Jangan pernah layu dengan isu globalisasi, namun menjadikan era globalisasi sebagai tantangan untuk berfikir lebih agresif, positif dan mau membuka diri (melalui FKH, PDHI dan Organisasi Non Teritorial).
Dokter Hewan sebaiknya lebih fokus pada bidang dan minat masing-masing. Namun pada kenyataannya, belum 100% dokter hewan kita siap bersaing. Mereka merasa merasa masih kurang pengetahuan, belum cukup mampu dan merasa tertinggal jauh.
Bagaimanapun kondisinya perjuangan harus terus ditegakkan. Adapun kunci utama berjuang adalah harus sanggup bertahan dan mempertahankan pasaran yang sedang berlang-sung saat ini, dengan salah satu cara yaitu saling berbagi.
Realitas di lapangan saat ini?
Khusus kota besar, banyak sekali pola pikir yang berubah dan maunya serba “instant”. Hal ini disebabkan oleh seiring perkembangan jaman (kemajuan ekonomi, teknologi dan kepedulian pengguna jasa) yang menyebabkan asumsi pengguna jasa berubah.
Tuntutan pasar mengharuskan perubahan jasa “murni” kearah “bisnis jasa” (tergantung manajemen dan pola pikir dokter hewan, misalnya dalam menentukan tarif)
Kebebasan pola pikir menuntut kesadaran akan hukum. Dalam arti bahwa dokter hewan harus siap mengikuti rambu-rambu dan payung hukum yang berlaku.
Adanya banyak perubahan minat klien dalam memelihara hewan kesayangannya (pet animal). Dibandingkan 10 tahun lalu, hewan kesayangan hanya dijadikan sebagai penjaga rumah, prestise dan penunjang ekonomi semata. Namun saat ini pet animal sebagai bagian dari kehidupan sosial dan anggota keluarga, dan bila sebagai penunjang ekonomi disertai dengan memperhatikan kesejahteraan hewan.
Langkah-langkah apa yang harus dilakukan?
1. Menggali kekuatan
Dengan menggali kekuatan diri, seperti Profesional secara skill (kemampuan), knowledge (pengetahuan), attitude (sikap) dan performance (penampilan).
Menyiapkan sikap dan mental untuk berjuang dan didukung dengan jiwa dalam melakukan pelayanan jasa. Diharapkan setiap dokter hewan menyiapkan rencana masa depan dan yang berwawasan yang lebih luas dan lebih ke depan.
Dengan menggali kekuatan modal Sumber Daya Manusia untuk selalu konsisten, passion (memiliki empathy) fokus dan selalu mau belajar.
Adanya buku pegangan (text book) yang selalu setia menemaki ketika pengetahuan harus di tambag. Begipula peralatan dan instrument yang selalu dirawat dan di upgrade.
2. Mempersiapkan fisik dan mental
Sehat jasmani (kuat fisik), jiwa yang selalu berfikiran positif dan jujur berlandaskan pada kepercayaan/agama, sedikit mempelajari buku-buku psikologi sehubungan dengan pemahaman karakter orang/klien.
3. Memiliki wawasan ke depan
Selalu mengikuti perkembangan dan jeli dalam melihat peluang pasar. Mempunyai kemampuan /jeli dalam menganalisa tantangan secara cermat untuk “ kapan harus memulai, menunda atau menghentikan?”.
Selalu fokus, konsisten, tidak pernah bosan dan tidak malas belajar untuk menambah pengetahuan seperti mengikuti seminar/workshop, continuing education, short course dll).

Yang menjadi tuntutan klien terhadap dokter hewan praktisi?
Kesembuhan, “doctor cares to my pets and me”, mempunyai kepedulian terhadap kesejahteraan hewan serta mempunyai pengetahuan yang luas dan memahami serta mengerti akan perkembangan dunia hewan kesayangan (pet animals).

Masalah yang sering dijumpai

Terbatasnya barang-barang (perlengkapan medis), obat-obatan, khususnya untuk hewan yang legal di pasaran mejadi kendala dalam melakukan profesi jasa bagi hewan. Sampai saat ini dunia kedokteran hewan masih menggunakan obat-obat manusia.
Terbatasnya pengetahuan akan perkembangan alat dan penggunaan obat yang masih menggunakan instrumen model lama (syringe, benang, infus dll), juga menjadi kendala utama bagi keprofesionalan dokter hewan.

Beberapa penyakit terkini dan yang akan datang
Beberapa penyakit yang harus menjadi perhatian dokter hewan dalam penangannya adalah beberapa penyakit menular, penyakit geriatri, penyakit gangguan sistem imun, penyakit spesial kucing dan kasus penyakit pada hewan eksotik kesayangan.
Semoga apa yang telah dibagikan oleh drh. Cucu Kartini menjadi pemacu semangat bagi para dokter hewan di seluruh Indonesia untuk bangkit, berkarya memperjuangkan profesi dokter hewan, memperjuangkan kesejahteraan hewan dan sampai bertemu di era globalisasi yang akan datang.
Go Veterinarian, Go!!!


*dikutip dari  http://www.koranpdhi.com/buletin-edisi12/edisi12-drhberjuang.htm

kedokteran hewan :D

Kedokteran hewan adalah penerapan prinsip-prinsip ilmu kedokteran, diagnosis, dan terapi pada hewan. Ilmu kedokteran hewan sangat penting untuk melindungi hewan, kesehatan hewan, dan memantau penyebaran penyakit, terutama yang dapat menular antara hewan dan manusia.
Kedokteran hewan secara tidak langsung adalah kedokteran manusia kuno. Namun, belakangan ini, kedokteran hewan berkembang begitu pesat dan kompleks. Proses diagnosis dan terapi dikembangkan untuk banyak spesies hewan. Hewan, pada masa kini, dapat diberi perawatan medis lanjut dan pemeriksaan gigi. Perawatan medis seperti manusia pun termasuk, seperti terapi penyuntikkan insulin pada anjing atau kucing yang menderita diabetes, perawatan katarak, dan penggunaan alat pacu jantung.
Ilmu kedokteran hewan sudah mencapai pada tahap spesialisasi. Di Amerika Serikat, Asosiasi Kedokteran Hewan Amerika (AVMA) menetapkan berbagai cabang spesialisasi seperti anestesiologi, perilaku, dermatologi, perawatan darurat, penyakit dalam, kardiologi, onkologi, neurologi, radiologi, dan bedah. Untuk menjadi spesialis, seseorang harus menyelesaikan pendidikan kedokteran hewan dasar, kemudian mengikuti masa residensi.
Kedokteran hewan juga penting dalam memantau kualitas, banyaknya, dan keamanan dari makanan manusia yang banyak berasal dari hewan, seperti susu dan daging.

Dokter hewan ialah dokter khusus binatang dan praktikus kedokteran hewan. Dokter hewan disebut juga veteriner. Kata itu berasal dari bahasa Latin veterinae.



Meski di banyak negara dokter hewan dianugerahi gelar dokter dan menerima pelatihan lanjut dalam praktik kedokteran hewan, banyak bidang kerja yang terbuka bagi mereka dengan gelar dokter hewan selain dari praktik klinik. Mereka yang bekerja di lingkungan klinik sering praktik dokter dalam bidang spesifik, seperti kedokteran "hewan kesayangan", kedokteran ternak, kuda (mis. olahraga, balapan, pertunjukan, rodeo), kedokteran hewan laboratorium, atau kedokteran reptil atau mereka berspesialisasi dalam bidang kedokteran seperti pembedahan, dermatologi, atau kedokteran dalam, setelah pelatihan dan sertifikasi pascasarjana.
Banyak dokter hewan mengikuti pelatihan pascasarjana dan memasuki karier penelitian dan telah menyumbang banyak kemajuan dalam banyak bidang kedokteran manusia dan hewan, termasuk farmakologi. Dokter hewan peneliti pertama kali mengisolasi onkovirus, sprsies Salmonella, Brucella, dan bermacam agen patogen lainnya. Dokter hewan menentukan ciri-ciri agen penyebab penyakit botulisme; menciptakan antikoagulan yang digunakan untuk mengobati penyakit jantung manusia; dan mengembangkan teknik pembedahan untuk manusia, seperti penggantian pinggul, tungkai dan organ transplan.
Seperti dokter lainnya, dokter hewan harus membuat keputusan etika serius mengenai perawatan pasiennya. Sebagai contoh, ada debat dalam profesi ini mengenai etika declawpengaitan dan pemotongan ekor dan telinga, seperti dalam perumahan induk babi dalam masa kehamilan. kucing dan
Barangkali penggambaran paling akurat mengenai jenis kedokteran hewan ialah dalam buku otobiografi Dr. Gurnam Singh Gill, sarjana istimewa PAU Ludhiana, dan adaptasi televisi, All Creatures Great and Small. Yang terpopuler dalam media utama ialah Dr. Dolittle, yang merupakan buku anak yang diangkat ke layar lebar pada 1967 dengan Rex Harrison sebagai pemeran utama. Film itu dibuat kembali pada 1998 yang menampilkan Eddie Murphy sebagai Dr. Dolittle. Dr. Dolittle yang asli melibatkan pulau sebagai latar utama, sedangkan Dr. Dolittle yang dibuat kembali berlatar kota.

*sumber : wikipedia